Perjalanan Pendek Menemukan Sebuah Arti

bukit-kabaBangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, besar dalam budaya, besar dalam suku bangsa dan besar dalam perjuangan. Bapak-bapak bangsa (Founding Fathers) telah meletakkan dasar yang kokoh dalam perjalanan bangsa Indonesia ke depan. Selain itu lebih dari dua ratus juta rakyat Indonesia memiliki peranan-peranan yang tak kecil pula.

Sebagai satu dari sekian ratus juta manusia yang lahir di Ibu Pertiwi saya juga memiliki sebuah usaha yang kecil dalam menemukan arti hidup berbangsa dan bernegara di negeri indah ini. Usaha itu bermula dari sebuah perjalanan pendek yang mungkin akan mengubah pandangan hidup saya terhadap kekayaan bangsa Indonesia.

Hari Kamis tanggal 22 Januari 2009, saya bersama teman-teman kampus sepakat untuk menaiki gunung (bukit) Kaba di Curup, Provinsi Bengkulu. Bagi saya pendakian ini merupakan pengalaman pertama. Sebagai pendaki junior, hal pertama yang muncul di pikiran adalah pendakian ini akan membosankan, melelahkan, menghabiskan uang dan waktu. Namun semua itu salah besar justru disinilah saya menemukan sebuah pandangan baru dari alam indah Indonesia.


Perjalanan dari kota Lubuk Linggau ke Curup sangat mengasyikan, sepanjang perjalanan mata kita disuguhkan pemandangan yang indah, perkebunan di kiri dan kanan jalan udara dingin nan sejuk menemani perjalanan yang menempuh waktu satu setengah jam itu. Sesampainya di pos penjagaan gunung, saya sempat mengobrol bersama penjaganya di tengah hamparan kebun jagung dan sayuran yang dingin, sesuatu yang tidak akan pernah saya temui di kota.

bukit-kaba-1
Sehabis menunggu teman-teman menunaikan Sholat Jumat kami sepakat untuk langsung mendaki gunung Kaba. Di tengah perjalanan menunju puncak gunung, kami berhenti sejenak di sebuah aliran sungai kecil dengan aliran air yang jernih. Penat dan letih seakan sirna. Akhirnya setelah berjalan dan mendaki di areal yang cukup terjal selama 2 jam kami sampai juga di puncak. Inilah titik kulminasi dari semua letih dan lelah dalam perjalanan. Dipuncak udara sangat bersih dan murni dengan pemandangan yang tak dapat saya ucapkan ditambah kabut yang membuat suasana lebih damai. Namun, semua perasaan tersebut seakan tercemar oleh banyaknya tumpukan sampah dan kotoran dari para pendaki gunung itu sebelumnya. Base camp pendaki tidak lagi menjadi tempat yang bersih dan sehat. Sungai yang menurut teman saya setahun yang lalu masih jernih dan mengalir kini keadaannya sangat kotor dan tidak lagi mengalir seperti dulu. Oleh sebab itu, kami tidak dapat lagi menggunakan air dari sungai di puncak itu untuk keperluan kemah sehari-hari. Karena itu kami terpaksa mengambil air di tempat yang lain dengan konsekuensi jarak yang semakin jauh. Melihat semua itu, kami semua sepakat untuk membersihkan semua sampah dan kotoran yang ada di base camp dan membuatnya bersih seperti apa yang dilihat teman saya setahun yang lalu. Tentu bukan hal yang mudah untuk membersihkan sampah dan kotoran itu dibutuhkan waktu kurang lebih 1 jam bagi kami untuk membuatnya bersih. Di tengah upaya pembersihan itu, banyak pula teman-teman pendaki yang lain (yang berasal dari luar propinsi) turut membantu kami dan sayangnya tak sedikit pula yang hanya melihat dan mencemooh karena menganggap apa yang kami lakukan hanyalah bentuk dari kesia-siaan belaka.

bukit-kaba-2
Setelah pembersihan kami mendirikan tenda dan dilanjutkan dengan memasak untuk makan malam. Tak lupa kami memastikan bahwa semua sampah kami telah dibuang dengan benar. Malam pertama di puncak gunung pun terlewati ditemani oleh ratusan bintang di langit dan kilauan lampu-lampu rumah penduduk di bawah gunung. Keesokan harinya kami menuju puncak tertinggi dari gunung Kaba dimana di sana ada kawah belerang. Sekali lagi perjalanan ke puncak kawah lebih sulit daripada menuju puncak base camp, kontur daerahnya berbatu dengan kemiringan hampir 90 derajat. Rupanya dilokasi itu, telah dibangun anak-anak tangga oleh Pemerintah Daerah setempat sehingga memudahkan pendaki untuk menaiki puncak kawah. Rupanya bagi sebagian pendaki, fasilitas anak-anak tangga itu disalahgunakan sebagai tempat untuk vandalisme, banyak coretan-coretan dan graviti yang bertuliskan nama atau asal dari pendaki yang pernah mendaki di gunung itu. Hampir keseluruhan anak tangga penuh oleh coretan bahkan sampai ke pagar pembatas kawah. Tentu hal ini mengurangi keindahan dari pemandangan gunung Kaba tersebut. Salah satu teman saya sebenarnya telah mempersiapkan untuk menuliskan nama kelompok kami di anak tangga itu, namun karena desakan dari saya dan teman-teman yang lain maka niat itupun diurungkan. Karena kami yakin bahwa perjalanan jauh kami dari Palembang ke Bengkulu bukan untuk mengotori gunung namun menikmati keindahan alam yang tak dapat kami temukan disini. tenda-bukit-kaba

Setelah 1 hari menginap di puncak gunung Kaba kami akhirnya turun, semua sampah dan kotoran yang kami tinggalkan selama menginap telah dibuang di tempat sampah. Boleh dikatakan kami meninggalkan Gunung Kaba dengan bersih seperti sebelum kami mendaki. Perjalanan pulang sama menariknya dengan perjalanan kami menuju puncak gunung.

Kini, saya telah berada di Palembang sebuah kota yang tak akan pernah sama dengan apa yang kami rasakan di puncak gunung Kaba. Kami pulang dengan hati yang senang dan puas bukan karena telah berhasil mendaki gunung dengan tinggi 1.300 meter di atas permukaan laut itu namun lebih kepada perasaan bahwa kami telah dapat menghargai alam Indonesia. Usaha kecil yang saya dan teman-teman lakukan bukanlah usaha besar seperti yang telah dilakukan oleh Pahlawan-pahlawan besar Indonesia dan orang-orang yang telah mengorbankan nyawa dan raganya demi tegaknya negara Indonesia. Apa yang kami lakukan adalah usaha kecil yang dapat kita lakukan bersama, usaha kecil inilah yang sudah seharusnya dilakukan oleh semua rakyat Indonesia sesuai dengan bidangnya masing-masing karena saya yakin kita memiliki usaha-usaha sendiri baik itu kecil atau besar untuk membangun bangsa ini seperti apa yang telah diperjuangkan oleh Pahlawan kita. Usaha kecil akan mengubah Indonesia karena Aku untuk Bangsaku dimulai dari hal kecil.

7 Tanggapan ke “Perjalanan Pendek Menemukan Sebuah Arti”


  1. 1 taneakjang 4 Februari 2009 pukul 13:51

    terimakasih tuhan. masih ada anak negeri yang bisa dan mau menikmati keindahan alam tanah rejang htpp://rejang-lebong.blogspot.com

    salam

  2. 2 Tun Jang 4 Februari 2009 pukul 14:09

    kisah pendakianmu ke gunung kaba saya publish di blog tanah rejang, dengan mencantumkan sumber blogmu. terimakasih telah menulis artikel ini. salam

    Terima kasih..silahkan saja mas.

  3. 3 RCO 5 Februari 2009 pukul 18:33

    Kisah yang sempurna. Karena tidak meninggalkan kekotoran yang dibenci siapapun yang menyadarinya.

  4. 4 Rahmat 5 Februari 2009 pukul 18:50

    Alam Indonesia memang bagus dan masih banyak tempat-tempat lainnya yang indah untuk dikunjungi. Pengalaman yang menarik.

  5. 5 swastika87 6 Februari 2009 pukul 11:21

    makasi ya atas masukannya di forum
    buat pasang banner

    berkunjung nehh

    Sama-sama mbak, terima kasih kembali.

  6. 6 Darmanto 10 Februari 2009 pukul 18:42

    Thanks yon, perjalanan kita kemarin mudah-mudahan dapat membawa arti bagi semua.

    Sama-sama, to!

  7. 7 yandik 11 September 2009 pukul 02:31

    minta foto nya ya, buat di kenal kan ke orang2 kekayaan bengkulu..


Tinggalkan Balasan




Subscribe in Bloglines

Add to The Free Dictionary

Powered by FeedBurner

Kategori